Kita Telah Mati
Oleh: Muhammad Rafi Akbar
"Bangun!"-
Seorang dengan wajah samar membangunkanku dalam mimpi. Mimpi apa? Lupa kuingat. Yang terlintas hanyalah sebuah nama, "Fani." Bagaimana pula dia bisa hadir, dengan nama yang kuingat, tapi dengan paras yang kulupa?
Beranjak aku dari tempat tidur. Jam dinding menunjukkan pukul 2 pagi. Kuingat kembali dengan seksama, dengan bayang-bayang samar kuikuti alur mimpi itu.
Belum sempat lanjut mengingat, pintu kamarku terbuka. Arah apa yang aku tuju? Kaki ini seakan menuntun agar menuju pintu yang terbuka itu. Langkah demi langkah, dapat terlihat jelas bahwa pintu itu bukan mengarahkanku pada ruang lain dari rumahku, melainkan mengantarkanku pada suatu tempat yang entah dimana. Tak pernah sedikit pun kupijak. Tapi, seakan kaki ini sudah mengenali betul menuju arah mana langkah ini. Sebuah tempat yang gelap, seperti kebun, atau barangkali hutan. Sedikit cahaya hanya terpancar dari bulan.
Kaki ini masih berjalan dengan sendirinya, seakan menuntun mengambil alih perintah dari yang sebagaimana pikiranku ingin. Sampai pada akhirnya aku terhenti pada suatu gubuk. Tak jauh dari situ dapat kulihat seorang gadis muda yang tak begitu tinggi, berpakaian putih, dengan wajah cantik. Tiada curiga dariku padanya, hanya sedikit rasa heran saja. Matanya terarah padaku, dan menghampiriku dengan tiada ragu. Sampai akhirnya tubuh ini jaraknya hanya sejengkal saja.
"Namaku, Fani," ucapannya itu menghembus pada wajahku yang penuh tanya dengan dingin. Kemudian, ia mengenggam tanganku yang seakan mengikuti apa maunya. Entah menuju mana lagi kaki ini mengantarkan, diiringi pula dengan genggaman dingin seorang gadis.
Tapi, genggaman ini seakan membukakan sedikit memori: nama beserta wajahnya, sekilas pernah mampir atau barangkali lewat sejenak. Semua tanya ini masih bersemayang dalam kepala!
Gubuk itu menjauh dari pandangan. Tak sedikit pun dapat kulihat adanya orang lain disini. Terhentilah aku sebagaimana dia berhenti, pada sebuah pohon yang rindang. Seisi hutan ini penuh akan pohon yang sama, jaraknya tidak terlalu berdekatan, rindang, dan penuh dengan guguran daun. Entah apa maksud darinya menuntunku kemari. Hanya saja nampak dari dirinya seperti ingin mengatakan sesuatu.
Sambil menunjuk ke arah pohon itu dia berkata: "bangunkan aku di situ."
Tak sempat aku bertanya apa maksud dari perkataannya, dia menghilang dari pandanganku setelah aku mengedipkan mata. Aku berlari menelusuri seisi tempat yang kuhinggapi, mencarinya. Tak kutemukan. Tempat ini seakan samar dan berbeda dari semenjak pertama aku memijakkan kaki. Hingga sudah tak sanggup lagi berlari, aku beristirahat pada sebuah pohon, dan dengan tak sadar mulai tertidur.
***
Pagi dingin menyelimuti tubuh. Embun bermain dengan wajah lelahku. Aku terbangun, dan segera timbul sebuah tanya dalam benak: apa yang terjadi semalam? Apa mimpi dalam mimpi?
Baru saja berpikir demikian, aku terheran, karena aku terbangun didekat sebuah pohon yang rindang, bukan di kamarku seperti pada awal aku terbangun ataupun pohon terakhir yang aku singgahi, karena penat kepala ini jika hanya memikirkan banyaknya pohon yang kiranya hampir serupa. Segera kuingat rangkaian kejadian semalam. Teringat kembali namanya: Fani! Segera kuteriaki namanya, sebagaimana dia minta. Pohon-pohon disini sama persis, tiada kuingat yang dutunjukan semalam. Jadi, untuk mempercepat aku sebut namanya pada masing-masing pohon yang kulewati.
Namun, sudah sampai berapa kali aku memanggilnya dan menelusuri, tak ada tanda-tanda kemunculannya.
Dengan pasrah kumenelusuri seisi tempat ini lagi, dengan harap mememukan jawab. Hingga akhirnya aku sampai pada suatu tempat yang sempat hadir sekilas dalam bayangan saat pertama kubertemu Fani. Ya, gubuk! Segera aku berlari menuju gubuk itu. Tempat ini berantakan, seperti memang barang-barang yang berantakan ini menandakan suatu kejadian. Tak jauh dari sana pada bagian pojok kiri ruangan, aku menemukan sebilah pisau bersimbahan dengan darah yang digenggam oleh seorang lelaki yang tak begitu tua, berbadan gemuk, kepala botak, tewas dengan posisi tergeletak dekat kursi. Seisi perut keluar dan wajahnya babak belur remuk seperti telah dihantam tinju beberapa kali, atau mungkin beberapa kali dipukul dengan benda tumpul.
Darah berceceran di seisi ruangan. Nampak tempat ini menjadi bekas arena duel dua orang yang memiliki kekuatan seimbang. Tak jauh dari tempat mayat itu tergeletak, terdapat kamera. Kulihat isi rekaman terakhir, ternyata rekaman ini berisikan pembunuhan! Ya, dia membunuh Fani, dan merekamnya. Nampak sebelum dibunuh, Fani dia gagahi, baru kemudian ia bunuh dengan kejam. Rekaman berakhir setelah lelaki itu dengan segala waspada mematikan kameranya.
Pertanyaanku sekarang, bagaimana aku bisa terlibat dalam perkara ini? Tapi, sekarang tanya hanyalah tanya. Aku harus kembali mencari pohon yang dimaksud, mencari jawab sendiri.
Sesampainya kembali, aku melihat Fani berdiri di bawah pohon itu, seakan sudah tentu dia menunggu kedatanganku. Dia monoleh, menatapku, dan berkata: "Apa yang kau temukan adalah segala jawab dari tanyamu. Sekarang, mari ikutlah bersamaku, menuju segala tenang dalam kekal," ajaknya.
"Apa maksudmu? Kau kira aku ini sudah mati!? Aku masih bisa menyusuri seluruh tanya yang muncul, dan mendapat jawab. Aku mendapatkan fakta jika kau terbunuh! Namamu, Fani, dapatku ingat. Kau terbunuh dalam tragedi pembunuhan. Biarlah kau tenang dengan segala damai!" Seruku.
"Tidak, kau sama denganku, juga sama dengannya. Ada satu ruang yang menyatukan kita, dan terpisah daripada dirinya. Kita telah mati."
~TAMAT~
"Bangun!"-
Seorang dengan wajah samar membangunkanku dalam mimpi. Mimpi apa? Lupa kuingat. Yang terlintas hanyalah sebuah nama, "Fani." Bagaimana pula dia bisa hadir, dengan nama yang kuingat, tapi dengan paras yang kulupa?
Beranjak aku dari tempat tidur. Jam dinding menunjukkan pukul 2 pagi. Kuingat kembali dengan seksama, dengan bayang-bayang samar kuikuti alur mimpi itu.
Belum sempat lanjut mengingat, pintu kamarku terbuka. Arah apa yang aku tuju? Kaki ini seakan menuntun agar menuju pintu yang terbuka itu. Langkah demi langkah, dapat terlihat jelas bahwa pintu itu bukan mengarahkanku pada ruang lain dari rumahku, melainkan mengantarkanku pada suatu tempat yang entah dimana. Tak pernah sedikit pun kupijak. Tapi, seakan kaki ini sudah mengenali betul menuju arah mana langkah ini. Sebuah tempat yang gelap, seperti kebun, atau barangkali hutan. Sedikit cahaya hanya terpancar dari bulan.
Kaki ini masih berjalan dengan sendirinya, seakan menuntun mengambil alih perintah dari yang sebagaimana pikiranku ingin. Sampai pada akhirnya aku terhenti pada suatu gubuk. Tak jauh dari situ dapat kulihat seorang gadis muda yang tak begitu tinggi, berpakaian putih, dengan wajah cantik. Tiada curiga dariku padanya, hanya sedikit rasa heran saja. Matanya terarah padaku, dan menghampiriku dengan tiada ragu. Sampai akhirnya tubuh ini jaraknya hanya sejengkal saja.
"Namaku, Fani," ucapannya itu menghembus pada wajahku yang penuh tanya dengan dingin. Kemudian, ia mengenggam tanganku yang seakan mengikuti apa maunya. Entah menuju mana lagi kaki ini mengantarkan, diiringi pula dengan genggaman dingin seorang gadis.
Tapi, genggaman ini seakan membukakan sedikit memori: nama beserta wajahnya, sekilas pernah mampir atau barangkali lewat sejenak. Semua tanya ini masih bersemayang dalam kepala!
Gubuk itu menjauh dari pandangan. Tak sedikit pun dapat kulihat adanya orang lain disini. Terhentilah aku sebagaimana dia berhenti, pada sebuah pohon yang rindang. Seisi hutan ini penuh akan pohon yang sama, jaraknya tidak terlalu berdekatan, rindang, dan penuh dengan guguran daun. Entah apa maksud darinya menuntunku kemari. Hanya saja nampak dari dirinya seperti ingin mengatakan sesuatu.
Sambil menunjuk ke arah pohon itu dia berkata: "bangunkan aku di situ."
Tak sempat aku bertanya apa maksud dari perkataannya, dia menghilang dari pandanganku setelah aku mengedipkan mata. Aku berlari menelusuri seisi tempat yang kuhinggapi, mencarinya. Tak kutemukan. Tempat ini seakan samar dan berbeda dari semenjak pertama aku memijakkan kaki. Hingga sudah tak sanggup lagi berlari, aku beristirahat pada sebuah pohon, dan dengan tak sadar mulai tertidur.
***
Pagi dingin menyelimuti tubuh. Embun bermain dengan wajah lelahku. Aku terbangun, dan segera timbul sebuah tanya dalam benak: apa yang terjadi semalam? Apa mimpi dalam mimpi?
Baru saja berpikir demikian, aku terheran, karena aku terbangun didekat sebuah pohon yang rindang, bukan di kamarku seperti pada awal aku terbangun ataupun pohon terakhir yang aku singgahi, karena penat kepala ini jika hanya memikirkan banyaknya pohon yang kiranya hampir serupa. Segera kuingat rangkaian kejadian semalam. Teringat kembali namanya: Fani! Segera kuteriaki namanya, sebagaimana dia minta. Pohon-pohon disini sama persis, tiada kuingat yang dutunjukan semalam. Jadi, untuk mempercepat aku sebut namanya pada masing-masing pohon yang kulewati.
Namun, sudah sampai berapa kali aku memanggilnya dan menelusuri, tak ada tanda-tanda kemunculannya.
Dengan pasrah kumenelusuri seisi tempat ini lagi, dengan harap mememukan jawab. Hingga akhirnya aku sampai pada suatu tempat yang sempat hadir sekilas dalam bayangan saat pertama kubertemu Fani. Ya, gubuk! Segera aku berlari menuju gubuk itu. Tempat ini berantakan, seperti memang barang-barang yang berantakan ini menandakan suatu kejadian. Tak jauh dari sana pada bagian pojok kiri ruangan, aku menemukan sebilah pisau bersimbahan dengan darah yang digenggam oleh seorang lelaki yang tak begitu tua, berbadan gemuk, kepala botak, tewas dengan posisi tergeletak dekat kursi. Seisi perut keluar dan wajahnya babak belur remuk seperti telah dihantam tinju beberapa kali, atau mungkin beberapa kali dipukul dengan benda tumpul.
Darah berceceran di seisi ruangan. Nampak tempat ini menjadi bekas arena duel dua orang yang memiliki kekuatan seimbang. Tak jauh dari tempat mayat itu tergeletak, terdapat kamera. Kulihat isi rekaman terakhir, ternyata rekaman ini berisikan pembunuhan! Ya, dia membunuh Fani, dan merekamnya. Nampak sebelum dibunuh, Fani dia gagahi, baru kemudian ia bunuh dengan kejam. Rekaman berakhir setelah lelaki itu dengan segala waspada mematikan kameranya.
Pertanyaanku sekarang, bagaimana aku bisa terlibat dalam perkara ini? Tapi, sekarang tanya hanyalah tanya. Aku harus kembali mencari pohon yang dimaksud, mencari jawab sendiri.
Sesampainya kembali, aku melihat Fani berdiri di bawah pohon itu, seakan sudah tentu dia menunggu kedatanganku. Dia monoleh, menatapku, dan berkata: "Apa yang kau temukan adalah segala jawab dari tanyamu. Sekarang, mari ikutlah bersamaku, menuju segala tenang dalam kekal," ajaknya.
"Apa maksudmu? Kau kira aku ini sudah mati!? Aku masih bisa menyusuri seluruh tanya yang muncul, dan mendapat jawab. Aku mendapatkan fakta jika kau terbunuh! Namamu, Fani, dapatku ingat. Kau terbunuh dalam tragedi pembunuhan. Biarlah kau tenang dengan segala damai!" Seruku.
"Tidak, kau sama denganku, juga sama dengannya. Ada satu ruang yang menyatukan kita, dan terpisah daripada dirinya. Kita telah mati."
~TAMAT~
Komentar
Posting Komentar