Oleh: Muhammad Rafi Akbar "Bangun!"- Seorang dengan wajah samar membangunkanku dalam mimpi. Mimpi apa? Lupa kuingat. Yang terlintas hanyalah sebuah nama, "Fani." Bagaimana pula dia bisa hadir, dengan nama yang kuingat, tapi dengan paras yang kulupa? Beranjak aku dari tempat tidur. Jam dinding menunjukkan pukul 2 pagi. Kuingat kembali dengan seksama, dengan bayang-bayang samar kuikuti alur mimpi itu. Belum sempat lanjut mengingat, pintu kamarku terbuka. Arah apa yang aku tuju? Kaki ini seakan menuntun agar menuju pintu yang terbuka itu. Langkah demi langkah, dapat terlihat jelas bahwa pintu itu bukan mengarahkanku pada ruang lain dari rumahku, melainkan mengantarkanku pada suatu tempat yang entah dimana. Tak pernah sedikit pun kupijak. Tapi, seakan kaki ini sudah mengenali betul menuju arah mana langkah ini. Sebuah tempat yang gelap, seperti kebun, atau barangkali hutan. Sedikit cahaya hanya terpancar dari bulan. Kaki ini masih berjalan dengan sendirinya, s...
Komentar
Posting Komentar